Jumat, 24 Juni 2011

K O M P A N G A N ( HADRA )

Kompangan adalah musik tradisional asli Propinsi Jambi yang memadukan seni musik alat pukul/sebentuk rebana dengan tradisi islam dan dipadukan dengan tarian khas berbau melayu.

Secara umum jika di lihat sekilas, alat musik kompangan tidak banyak berbeda dari alat music lain seperti rebana, ketipung, dan alat music pukul lainnya. Namun yang berbeda adalah dari bentuk, nada, dan kompangan sangat identik dengan kebudayaan islam yang melekat dan melebur kedalam budaya melayu di Jambi. Kompangan mulai dikenalkan didaerah Kampung Tengah, Seberang Kota Jambi pada tahun 1943. Pada awal berdirinya, masyarakat mengenal Kompangan sebagai Sambilan. Sambilan sendiri merupakan singkatan dari nama-nama pendirinya: Safaidin, Ahmad, Marzuki, Burhanudin, Ibrohim, Jalil, Ahmad Jalil dan Nawawi. Sejak saat itu, Sambilan mulai di pakai masyarakat dalam berbagai macam kegiatan misalnya acara penyambutan mempelai pengantin dalam acara pernikahan.
Alat musik kompangan sendiri terbuat dari kulit sapi yang di keringkan dan di pasangkan ke-ring yang terbuat dari kayu. Bentuknya persis seperti rebana. Alat music kompangan terdiri dari beberapa ukuran, dan ukuran inilah yang nantinya akan menghasilkan suara berbeda sehingga variasi suara yang dihasilkan hanya berasal dari ukuran kompang (biasa masyarakat menyebut dengan “kompang”) itu sendiri. Sejak awal dikenalkannya, sampai sekarang kompangan telah menyebar luas di wilayah Propinsi Jambi. Rata-rata hampir setiap dusun memiliki kelompok kompangan.
Kompangan biasanya dimainkan pada saat dilakukan iring-iringan menghantarkan mempelai pria dari kediamannya ke kediaman mempelai perempuan. Sepanjang jalan ini akan diiringi dengan tabuhan suara kompangan dan nyanyian-nyanyian bernuansa islam. Kompangan juga biasanya digunakan untuk mengiringi seni pencak-silat yang dilakukan persis didepan kediaman mempelai perempuan sebelum penyerahan mempelai pria ke keluarga mempelai laki-laki dalam bentuk saloko. Saloko sendiri adalah upacara penyerahan mempelai pria ke mempelai perempuan yang disampaikan dalam bentuk sahut-sahutan pantun-pantun melayu yang biasanya dilakukan oleh tetua adat (ninik mamak) kampung. Selama ini kompangan begitu melekat dalam budaya melayu Jambi.


Sedikit yang tahu soal sejarah perkembangan musik tradisional Hadra alias kompangan di Provinsi Jambi. Apalagi, kini kompangan mulai ditinggalkan, berganti oleh musik modern seperti organ tunggal dan sejenisnya. Seperti apa sejarah Hadra sebenarnya?
Bunyamin Yusuf, Ketua Ikatan Dewan Hadra Anggut (IDHA) Provinsi Jambi, terlihat berjalan santai menyambut Jambi Independent saat ditemui di rumahnya, Jalan Temenggung Jakfar RT 02 Kelurahan Tahtul Yaman, kemarin (28/3). Celana Bunyamin terlihat digulung akibat banjir yang mulai merambat ke perkarangan rumahnya. Bunyamin mulai bercerita. Katanya, Hadra yang pertama kali ada di Provinsi Jambi bernama Sambilan. Singkatan dari nama-nama pendirinya: Safaidin, Ahmad, Marzuki, Burhanudin, Ibrohim, Jalil, Ahmad Jalil dan Nawawi. Diperkirakan Sambilan lahir tahun 1943.
Sambilan mulai aktif di Kampung Tengah, Seberang Kota Jambi. Pendirinya berasal dari Kampung Tengah, dua dari luar Kampung Tengah. Nawawi dan Jalil. Nawawi berasal dari daerah Sungai Maram dan Jalil dari Kampung Arab Melayu. Awal pendirian Hadra Sambilan sangat alot. Setelah berdiri, pergerakan mereka pun terseok-seok. Alat-alat musik pertama dibuat dari kulit sapi yang dibentuk bulat menggunakan kayu. Cukup sulut membuat satu rebana di jaman itu.
Hadra mulai dikenal masyarakat setempat sebagai musik tradisional yang Islami. Arak-arakan pengantin mulai menggunakan jasa Hadra. Selain itu, digunakan pula untuk hajatan lain seperti cukuran anak, marhabah, dan menyambut tamu-tamu agung. Untuk kostum, anggota grup Sambilan mengenakan pakaian ala raja-raja Melayu jaman dulu. Yakni, baju muslim dengan kain songket di selempang dan pinggang. Kepala pemusik menggunakan kain yang digulung seperti topi runcing.
“Warna yang mereka pakai pertama kali adalah warna biru,” beber Bunyamin.
Lagu-lagu yang dinyanyikan kebanyakan bernuansa Islami, berasal dari kitab-kitab marhabah. Sementara lambang grup Sambilan, berupa motif Kembang Tandjung. Alasannya, bunga Tandjung mempunyai delapan kelopak yang mencerminkan delapan orang pendiri. Dan juga, bunga itu mekar pada jam delapan malam, “ini memberi pengertian bahwa latihan Hadra dilakukan pada malam hari antara jam delapan sampai jam sepuluh,” ujarnya.
Bagaimana perkembangan Hadra saat ini? Sekitar tahun 1980-an, seni budaya Hadra sangat diminati masyarakat Jambi. Tapi, memasuki tahun dua ribuan ke atas, peminat Hadra mulai menipis. Masyarakat yang sering memakai jasa grup Hadra kebanyakan dari wilayah Seberang Kota Jambi saja. Sedangkan di wilayah Provinsi Jambi Hadra mulai ditinggalkan.
Berawal dari grup Sambilan, Hadra mulai tersebar ke seluruh kabupaten. Di antaranya, Kabupaten Muaro Jambi, Merangin, Tebo, Bungo, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Batanghari. Walaupun di seluruh kabupaten sudah ada Hadra, jumlahnya kian lama kian menyusut. “Hanya Kabupaten Kerinci yang tidak ada group hadranya,” lanjutnya.
Sekitar tahun 1999, Hadra kota resmi dibentuk pada saat Festival Hadra digelar oleh Persatuan Pengajian Remaja Al-Hidayah Rt 09 Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Telanaipura. Pada saat itu, Bunyamin Yusuf yang merupakan salah satu guru besar Hadra Provinsi Jambi mempunyai gagasan untuk mempatenkan organisasi Hadra Kota Jambi bersama dengan Kms Halim, Joko Purwoko, Didi, dan beberapa orang lainnya yang peduli terhadap perkembangan Hadra. Mereka akhirnya membuat satu organisasi yang bernama Ikatan Dewan Hadra Anggut (IDHA) Kota Jambi.
Setelah organisasi hadra Kota Jambi berdiri, gairah masyarakat terhadap Hadra pada mulai tinggi lagi. Lambat laun, organisasi serupa mulai bermunculan di Kota Jambi. “Yang terdaftar di kami sudah 63 grup,” ujarnya. Setelah berdirinya Ikatan Dewan Hadra Anggut Kota Jambi, barulah pada tahun 2001 dibentuk Ikatan Dewan Hadra Provinsi Jambi yang dirumuskan oleh beberapa orang. Pendirian dilaksanakan di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Bunyamin Yusuf kembali terpilih sebagai ketua. “Sejak itu grup Hadra mencapai 120 grup, berasal dari masing-masing daerah,” jelasnya.
Meski organisasi terus berkembang, namun peminat musik Hadra sudah terlanjur menipis. Apalagi sejak tahun 2007, perkembangan Hadra di Kota Jambi sudah mulai berkurang. Penyebabnya, generasi muda yang telah terpengaruh oleh budaya luar tak lagi tertarik mempelajari kompangan. “Pemuda sekarang lebih banyak bermain di internet dan sulit untuk diajak latihan,” ujarnya, pesimis.
“Sudah selayaknya pemerintah memperhatikan dan mempertahankan kesenian budaya daerah Jambi. Jika tidak, anak-anak cucu kita nanti tidak akan lagi bisa melihat langsung seni budaya daerah Jambi. Hanya dapat mengenal dan melihatnya melalui buku sejarah saja,” tandasnya, berharap

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar